Categories
Headline Urban Legends

Realisasi 30% RTH Surakarta : Apakah itu mimpi?

IMG_3328
Ruang terbuka hijau atau yang lebih sering disingkat RTH merupakan ruang-ruang yang terdapat dalam suatu wilayah dalam bentuk area atau kawasan maupun dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, ekonomi,social, budaya, dan estetika.
Kota Surakarta sebagai salah satu kota yang perkembangan dan pertumbuhan pembangunannya terbilang cepat di Indonesia saat ini tengah menghadapi permasalah RTH yang semakin berkurang jumlahnya. Kota Surakarta saat ini hanya memiliki luas RTH tidak lebih dari 25% baik itu RTH Publik maupun RTH Privat. Hal ini cukup delematis mengingat dalam Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang menentukan proporsi RTH dalam sebuah wilayah kota sedikitnya mencapai 30% RTH dengan RTH Publik sebesar 20%.
Dengan latar belakang tersebut maka Pemkot Surakarta saat ini tengah menyusun dan menggodok produk hukum berupa Raperda tentang Ruang Terbuka Hijau dengan target dapat mencapai luas wilayah RTH Kota Surakarta sebagaimana yang diamanatkan dalam UU 26/2007 tentang Penataan Ruang. Sejau ini Pemkot Surakarta sudah menghasilkan draft Raperda tentang Ruang Terbuka Hijau dan sudah diduskusikan kepada berbagai elemen masyarakat pada tanggal 11 April 2016 lalu. Diharapkan jika Raperda tersebut disahkan menjadi Perda cita-cita kota Surakarta memiliki RTH lebih dari 30% dapat tercapai.
Pertanyaan saat ini adalah apakah dengan disahkannya Raperda tersebut dapat menjamin terciptanya RTH yang ideal bagi kota Surakarta? Bagaimana RTH dapat bertambah tanpa menghambat proses pembangunan kota Surakarta menuju kota metropolitan? Hal ini tentu menjadi tantangan yang akan dihadapi oleh Raperda RTH jika berhasil disahkan dan harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak dalam proses pembangunan untuk tidak mengesampingkat aspek RTH dalm setiap pembangunan mereka.
Sifat ruang atau wilayah yang tetap dari sebuah kota juga akan menjadi pengganjal target 30% RTH kota Surakarta di tengah pembangunan kota yang juga membutuhkan ruang-ruang baru dalam prosesnya. Jika Raperda ini kedepan hanya mengikat untuk pembangunan yang akan dilakukan setelah Raperda ini disahkan, rasanya target 30% RTH di kota Surakarta hanya sekedar menjadi mimpi yang entah kapan terwujud.
Namun jika Raperda ini kemudian juga berlaku surut bagi pembangunan yang sudah terlaksana tentu resiko timbulnya pertentangan dari masyarakat atau pihak-pihak yang merasa diberatkan dengan ketentuan tersebut akan besar. Lalu apakah dengan kemungkinan pertentangan yang akan timbul tersebut kemudian Raperda tentang RTH ini masih dapat dilaksanakan. Persolaan-persoalan tersebut harus dapat dijawab oleh Pemkot Surakarta secara bijak dan penuh perhitungan matang kedepannya. Sam Anjar Rantona 

Categories
Featured Urban Legends

Sejarah Garba Wira Bhuana

Sejarah berdirinya Garba Wira Bhuana berawal dari sekumpulan mahasiswa UNS yang mempunyai minat di bidang kepecintaalaman. Kemudian muncul gagasan untuk membentuk sebuah organisasi yang bergerak di bidang kepecinta alaman. Sekitar bulan Oktober 1976 keluar selebaran dari Bidang Kemahasiswaan tentang pendirian organisasi dibidang kepecintaalaman yang setelah sekian lama ditunggu yang kemudian dilontarkan kepada DEMA (Dewan Mahasiswa). Hingga awal 1977 pendirian organisasi tersebut belum juga terealisasi sehingga beberapa mahasiswa menemui PR III (Bp. Supiarto) pada waktu itu. Kemudian pada bulan Februari 1977 disusun sebuah proposal kegiatan pendakian Gunung Merbabu dalam rangka HUT UNS SEMAR (nama UNS pada waktu itu) sekaligus untuk pendirian Garba Wira Bhuana di puncak Gunung Merbabu. Namun karena padatnya kegiatan, pendakian tersebut tertunda hingga pertengahan bulan Juni 1977.
Berbagai persiapan dan latihan dilakukan untuk pendakian tersebut. Akirnya pada tanggal 16-19 Juni 1977 terlaksana dan pada tanggal 18 Juni 1977 Garba Wira Bhuana secara resmi diikrarkan dipuncak Gunung Merbabu. Nama garba Wira Bhuana sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tempat para ksatria bumi.
Bambang Poerbo, Joko, Setyo Kartono, Sulaimah, Mardonius, Endang, dan Deddy Poerbo adalah para mahasiswa yang mengikrarkan nama Garba Wira Bhuana sebagai sebuah organisasi kepecintaalaman di tingkat UNS SEMAR di puncak Gunung Merbabu.

Categories
Featured Urban Legends

Hari Hutan Sedunia, Masihkah?

Baluran

Pengamatan Flora Fauna@TN Baluran (GWB 1-8/2/12)

Kawasan hutan Indonesia mencapai 162 juta hektar . Lahan hutan terluas itu ada di Papua (32,36 juta hektar luasnya). Kemudian hutan Kalimantan (28,23 juta hektar), Sumatera (14,65 juta hektar), Sulawesi (8,87 juta hektar), Maluku dan Maluku Utara (4,02 juta hektar), Jawa (3,09 juta hektar), Bali dan Nusa Tenggara (2,7 juta hektar). Tetapi Luasnya lahan yang ada di Indonesia juga diimbangi dengan tingginya tingkat kebutuhan akan kayu. Sehingga tidak sedikit pohon yang umurnya melebihi manusia tumbang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sayangnya, saat ini penghijauan yang seharusnya dilakukan masih jauh dari kata cukup. Sehingga berakibat terus berkurannya luas lahan hutan di Indonesia.
Hingga saat ini, tanggal 20 Maret dipilih oleh masyarakat dunia untuk menjadi momentum peringatan Hari Hutan Sedunia yang saat itu mengampanyekan 3 hal utama untuk menjaga keberadaan hutan di dunia, yaitu melindungi hutan, memanfaatkan hasil hutan, dan menjadikan hutan sebagai tempat rekreasi alam untuk kesejahteraan manusia.
Selamatkan hutan kita yuk…! (X-Z, 21/3)

Categories
Urban Legends

Batik Warisan Leluhur

Batik, secara mengejutkan hadir dalam hidup kita kembali!
Bila kita belajar lebih jauh mengenai batik, hal – hal mengejutkan akan lebih banyak lagi kita temukan.
Jangan biarkan batik menghilang lagi.