Categories
Agenda Garba Featured Gallery Headline Kreatifitas Pendidikan Garba Refleksi

Gladian Garba Wira Bhuana

Categories
Refleksi

Ah Biar Saja

Aku cuma menyampaikan pandangan saja. Kalau bukan aku siapa lagi? Mungkinkah ini membuat adik – adikku merasa terintimidasi dan diatur – atur? Mungkin, tapi kapan lagi? Terkadang, kami terlalu bersemangat dalam penyampaian. Sering terdengar terlalu teoritis sehingga kesan cerewet sulit dihindari.

Ah Biar Saja

Semoga nasehat kami tak diperlukan lagi karena sudah diketahui. Namun bila belum, ini untuk mereka. Aku cuma ingin mereka lebih baik dari aku dulu. Aku tak ingin mereka celaka.

Ah Biar Saja

Untuk teman – temanku yang “tua”, tetaplah cereweti mereka. Mungkin mereka akan terluka tapi jangan sampai mereka celaka.

Ah Biar Saja

Semoga semua yang jelek itu terabaikan sejalan dengan waktu. Semoga pesannya saja yang diingat dan manfaatnya yang dilihat. Sabar ya Dik! Garba ini milikmu! Apakan saja terserah padamu.

Categories
Headline Refleksi

Mengakhiri Tahun dengan Kepengurusan Baru

 

Disinilah semuanya diawali dan diakhiri, Musyawarah Umum Anggota XXI. Dan bertemulah lagi kita diawal perjalanan kepengurusan yang baru…

Musyawarah Umum Anggota (MUA), forum tertinggi organisasi Garba Wira Bhuana, sukses dilaksanakan Jumat-Senin, 2-5 Desember 2016. Musyawarah yang berlangsung selama 4 hari ini bertempat di rumah anggota Gama Prabowo beralamtkan Blorong Kidul RT/RW 01/01, Ngunut, Jumantono, Karanganyar. Kegiatan yang bisa dihadiri oleh semua anggota Garba Wira Bhuana ini menghasilkan sebuah keputusan yang sangat penting bagi keberlangsungan organisasi, yaitu ketua umum yang baru. Terpilihnya ketua umum yang baru, Gama Prabowo (GWB 27302 NSA) adalah keputusan terakhir dan sangat dinantikan oleh semua anggota Garba Wira Bhuana karena tujuan utama MUA tahun ini (MUA XXI) adalah regenerasi pengurus. MUA telah lama berlangsung. Kepengurusan baru pun telah tersusun dan telah menjalankan fungsinya.

Siapa saja kah yang menjadi pengurus periode ini?

Naaah, ini dia susunannya…

Ketua umum : Gama Prabowo (GWB 27302 NSA)

 

Bidang I Penelitian dan Pengembangan

Koordinator bidang : Adhitya Bayu Prakasa (GWB 27292 NSA)

Staff bidang : Sri Meryarsih (GWB 26287 SJS)

 

Bidang II Kesekretariatan

Koordinator bidang : Nofia Nurul Falah (GWB 27304 NSA)

Sekretaris : Nofia Nurul Falah (GWB 27304 NSA)

Bendahara : Raih Sukma Prasiswi (GWB 27307 NSA)

Logistik : Dwi Purnomo Adhi (GWB 27300 NSA), Yudi Purwanto (GWB 26291 SJS)

 

Bidang III Operasional

Koordinator bidang : Rori Ardian Putra (GWB 27309 NSA)

Olahraga Arus Deras / ORAD : Rori Ardian Putra (GWB 27309 NSA)

Rock Climbing : Aji Nur Rohman (GWB 27293 NSA)

Caving : Dwi Purnomo Adhi (GWB 27300 NSA)

Hutan Gunung : Faizul Awali Hidayatullah (GWB 27301 NSA)

 

Bidang IV Lingkungan Hidup : Dimas Fika Pramudita (GWB 27299 NSA)

Bidang V Hubungan Masyarakat

Koordinator bidang : Brigitta Destiyani Puspaningrum (GWB 27296 NSA)

Humas eksternal : Brigitta Destiyani Puspaningrum (GWB 27296 NSA)

Humas internal : Okgy Ardhovan (GWB 27305 NSA)

Bidang VI Pembinaan Prestasi : Furqoni Sya’bana (GWB 26282 SJS)

 

Dewan Pertimbangan Pengurus (DPP) :

Sam Anjar Rantona (GWB 26285 SJS)

Ratna Dwi Jayanti (GWB 25269 CPS)

Permadi Riyanto (GWB 25268 CPS)

Selamat mengabdi dan berkarya untuk kepengurusan yang baru! Semoga dapat membawa Garba lebih baik lagi.

HELLO GENK!

Pendaki yang mencapai puncak hanyalah yang tangguh. Pejuang yang mencapai kesuksesan adalah yang sabar. Kita diberi pilihan untuk menjadi manusia yang rapuh oleh tantangan atau justru menghebat seiring hebatnya rintangan. Percayalah, badai selalu menyisakan pohon-pohon terkuat.

Categories
Agenda Garba Featured Headline Refleksi

Garba Wira Bhuana : Dare To Care

page
(Minggu, 28 Juni 2015) Garba Wira Bhuana Dare To Care, begitulah tema bakti sosial yang diadakan oleh penggiat alam bebas Mahasiswa Pencinta Alam UNS dalam rangka acara rangkaian HUT Garba Wira Bhuana ke-38 pada bulan puasa ini. Bakti sosial merupakan wujud rasa kemanusiaan antar sesama manusia yang didalamnya memiliki tujuan untuk mewujudkan rasa kasih dan peduli terhadap sesama.

Kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan di Dukuh Sepi Desa Jrakah Kecamatan Selo – Boyolali ini, diawali dengan sambutan oleh ketua panitia Marlita Pramuharti (GWB 27303 NSA-AM) lalu ditutup oleh Bapak Slamet Sutanto selaku Kepala Lurah Desa Jrakah. Acara selanjutnya yakni melakukan games-games seru yang diikuti oleh puluhan anak dari desa Jrakah yang mengikuti acara bakti sosial ini dengan penuh canda tawa dimana keseruan mulai tampak ketika acara bakti sosial ini dibuka.

Pada acara inti Bakti Sosial Garba Wira Bhuana Dare To Care ini yaitu ketika adzan berkumandang, anak-anak menyerukan doa buka bersama yang dipimpin oleh salah satu dari teman mereka. Ya, acara inti dari bakti sosial ini adalah buka bersama dengan anak-anak desa setempat yang dimana banyak anak-anak telah menjadi anak yatim piatu. Pada puncak acara bakti sosial ini dilakukan pembagian hadiah kepada masing-masing anak serta sesi foto bersama sebagai penutup dari kegiatan ini.

Categories
Refleksi

His Story About Diksar is Not History, Cieee!

Hello Gang!

Aku kadang – kadang heran juga. Kenapa aku dulu masuk pecinta alam? Ya betul “kenapa” kata kuncinya! Bukan apa yang memberi inspirasi atau memotivasiku menjadi pecinta alam. Padahal aku tidak pernah berpikir bahwa menjadi pecinta alam itu keren! Aku belum pernah tahu apa itu pecinta alam. Di SMA ku tidak ada pecinta alam saat itu. Aku-pun tidak banyak melihat tayangan di TV mengenai pecinta alam. Saat aku kecil hanya ada satu TV saja.

Aku ingat pernah mendengar kabar terjadi kecelakaan di gunung hingga menewaskan beberapa siswa dari suatu pondok pesantren. Itu beberapa saat sebelum aku tertarik masuk pecinta alam. Lalu saat aku melihat iklan Diksar (Pendidikan Dasar) Garba Wira Bhuana dan membaca beberapa materi yang akan disajikan, aku mulai penasaran. Untung saat itu belum ada google! Jadi aku tidak begitu takut dan memutuskan untuk ikut. Aku cukup kaget dengan apa yang aku alami pada saat Diksar. Bagai seorang anak yang terseret arus yang kuat dan tak kuasa untuk menggapai tepi!

Muncul tenggelam, muncul tenggelam terseret waktu yang sama panjangnya dengan masa kuliahku yang molor, aku merasa banyak belajar! Aku mencoba – coba mencari banyak manfaat untuk membenarkan lamanya waktu yang aku curahkan menjadi pecinta alam! Aku kadang merasa menjadi bagian dari upaya mencintai alam, walaupun sangat kecil. Seringkali pada saat itu, ditengah jalan aku gelisah dan bertanya beginikah pecinta alam itu? Atau kurang-kah upayaku menjadi pecinta alam? Salahkah upaya – upaya yang aku perbuat?

Naik Gunung, Panjat Tebing, Susur Gua, Membersihkan Gunung dari Sampah, dan apalagi? Memotret? Bukankah itu bisa dilakukan tanpa menjadi pecinta alam? Apa bedanya dengan pecinta alam? Diksar? Memangnya ada yang lain di dalam Diksar? Ya ada! Sedikit. Misalnya Teknik Survival, Pelajaran mengenai SAR, Navigasi Darat, Manajemen Perjalanan, Dasar – Dasar Organisasi, masih ada yang lain. Aku lupa!

Namun orang bisa bilang “TEORI!” Sekarang, bukankah semua dapat kita baca lewat buku dan internet? Seingatku aku tidak pernah mendapatkan pelajaran dari buku dan internet mengenai pekatnya  kabut, dinginnya gunung, ketakutan dan kebingungan! keputus-asaan, solidaritas. Bahkan sampai sekarang belum ada yang bisa menciptakan simulasi itu secara online! Mungkin sebentar lagi. Dengan Bioskop 4D! Sehingga semuanya berjalan dengan aman! Tanpa korban! Siapa tahu!

Sampai saat itu datang, aku kira pecinta alam masih sangat perlu ada. Bukan untuk membuat mati di gunung, di tebing, di gua, di sungai atau di laut. Aku punya teman seangkatan yang mati, eh maaf meninggal di sungai karena kecelakaan akibat banjir ketika melakukan latihan. Aku punya adik angkatan yang mengalami hal yang hampir sama.

Penyebab kematian mereka tentu kecelakaan atau kejadian tersebut. Namun orang bisa saja menarik kesimpulan jauh kebelakang bahwa penyebabnya adalah “menjadi pecinta alam” Bila mereka tidak menjadi pecinta alam, apakah mereka tidak akan melakukan kegiatan alam bebas itu? Bisa iya bisa tidak jawabannya. Bagaimana bila jawabannya “tidak? Artinya mereka tidak menjadi pecinta alam namun tetap melakukan kegiatan di alam bebas. Artinya dia melakukan itu tanpa pengetahuan dan dasar pelatihan yang benar! Aku kira resikonya akan lebih besar.

Jadi aku mengajak kita semua setuju bahwa Diksar memang lebih baik daripada tidak diksar! Ya tentu saja kita kemudian harus berpikir mengenai diksar yang memberikan manfaat yang sebesar – besarnya pada peserta diksar. Kita kemudian harus selalu menyesuaikan atau memperbaiki secara terus menerus Diksar kita. Siapa yang bisa di Diksar, siap yang men-Diksar, bagaimana caranya, dimana pelaksanaannya dan sebagainya. upaya – upaya memperbaiki Diksar harus selalu diberi penghargaan.

Jadi menjadi pecinta alam melalui Diksar akan berpikir harus mengadakan Diksar yang lebih baik. Diksar yang lebih baik akan membuat pesertanya membuat Diksar yang lebih baik lagi dan seterusnya. Aku rasa ini tidak akan pernah dialami pendaki gunung biasa. Kabut, dingin, hujan, panas dirasakan pendaki gunung juga tapi aku mengalami membuat Diksar. Aku berharap Diksar yang diadakan adik – adik ku jauh lebih baik bagi masanya sekarang.

Mendaki gunung, susur gua, panjat tebing, panjat diding, tentu kita senang. Apa jeleknya bila kita menyenangi apa yang kita perbuat? Karena kita tahu itu baik. Karena kita tahu bagaimana melakukannya dengan benar dan karena kita tahu kapan waktu yang tepat untuk melakukannya atau tidak melakukannya. Karena kita diajari mengontrol diri, diajari manajemen waktu. Ya dalam Diksar itu kita mempelajarinya.

Teman, jangan lupa tetap berhati – hati dan selalu senang berprestasi!

 

Categories
Refleksi

Kode Etik Pecinta Alam Indonesia

· Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
· Pecinta Alam Indonesia sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kepada Tuhan, bangsa dan tanah air.
· Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah sebagai makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Sesuai dengan hakekat diatas kami dengan kesadaran menyatakan :
1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya
3. Mengabdi kepada bangsa dan tanah air
4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitarnya serta menghargai manusia dengan kerabatnya.
5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan asas pecinta alam
6. Berusaha saling membantu serta saling menghargai dalam pengabdian kepada Tuhan, bangsa dan tanah air.
7. Selesai.

Disyahkan bersama dalam Gladian IV
Di Ujung Pandang, 1974