Categories
Agenda Garba Featured Gallery Headline Kreatifitas Pendidikan Garba Refleksi

Gladian Garba Wira Bhuana

Categories
Featured Gallery Headline Pendidikan Garba

Pendidikan Dasar Garba Wira Bhuana XXXII


Hello Gank!
Categories
Agenda Garba Featured Headline

Berlatih Lebih Jauh–Gladian Garba Wira Bhuana Rock Climbing 2017

Keseruan anggota mencoba menjajakkan kaki di titik tertinggi tebing
Keseruan anggota mencoba menjajakkan kaki di titik tertinggi tebing Samigaluh

Gladian Garba Wira Bhuana atau biasa disebut dengan Glagar adalah kegiatan latihan yang dapat diikuti oleh semua anggota guna menambah kecakapan anggota Garba Wira Bhuana. Pada tahun 2017 ini, serangkaian Glagar dilaksanakan antara bulan Maret – Mei. Glagar pertama yang telah dilaksanakan adalah rock climbing. Glagar rock climbing terlaksana pada tanggal 17-19 Maret 2017. Latihan ini mengambil tempat di tebing Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta. Dekat dengan lokasi basecamp rafting Sungai Progo bawah.

Diikuti oleh 23 anggota Garba Wira Bhuana, kegiatan Glagar Rock Climbing ini memiliki 2 bagian materi, materi dasar dan materi lanjutan. Materi dasar untuk anggota muda dan materi lanjutan untuk anggota penuh. Beberapa materi yang dipraktikkan diantaranya top rope climbing, artificial sport climbing, artificial climbing, rigging, pembuatan pengaman tubuh, dan pemasangan pengaman sisip. Terdapat 3 jalur panjat yang digunakan, tetapi tebing Samigaluh sendiri memiliki banyak sekali jalur dan telah terpasang hanger di tebingnya.

“Sebagian besar anggota sudah dapat mencapai dan memahami materi yang diberikan, hanya saja kurang di bagian teknik dan jam terbang panjat. Perlunya latihan rutin, misal boulder untuk mengasah teknik dan ketahanan otot saat memanjat. Panjat tidak hanya memerlukan otot, tetapi juga otak. Maka dari itu teknik dalam panjat harus selalu diasah,” pendapat Aji Nur Rohman selaku komandan lapangan kegiatan Glagar Rock Climbing.

Tebing Samigaluh dapat ditempuh sekitar 3 jam perjalanan dari Solo, tepatnya kampus UNS Kenthingan. Terdapat 2 rute yang dapat dilewati, yaitu lewat Ringroad Utara dan lewat Jogja kota. Dua rute tersebut memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Rute Ringroad lebih mudah untuk dilewati karena sepanjang jalur merupakan jalur dua arah, tetapi rute kota lebih cepat untuk mencapai tempat tujuan. Jika ingin melewati Rute Ringroad, setelah memasuki Ringroad Utara Jogja perempatan pertama belok kiri (arah Godean/Dekso) lalu lurus terus ikuti jalan raya sampai menemukan perempatan lampu merah yang biasa disebut perempatan Dekso. Dari perempatan Dekso masih lurus mengikuti jalan raya kurang lebih 3 kilometer. Di sebelah kanan terdapat banner bertuliskan “panjat tebing” lalu masuk ke jalan tersebut. Jalan belok kanan merupakan jalan cor semen yang sangat menanjak dan sempit. Perlu kondisi kendaraan (motor) yang baik, dan saat musim hujan jalan tersebut licin. Perlu berhati-hati ketika melewati jalan ini.

Tebing Samigaluh yang terletak di Desa Purwoharjo ini merupakan tebing dengan karakteristik batuan limestone atau batu kapur. Terdapat 2 tebing yang terdapat di area ini. Tebing pertama terletak sekitar 10 meter ke arah timur basecamp dan mempunyai 3 jalur sport dengan ketinggian kurang lebih 6 meter. Tebing kedua terletak agak jauh, kurang lebih 50 meter ke arah selatan basecamp. Tebing kedua memiliki 4 jalur sport yang masih bagus kondisi hanger-nya dengan ketinggian kurang lebih 20 meter. Namun diluar jalur yang sudah tersedia, masih banyak jalur yang dapat di-explore untuk pemanjat tingkat pemula maupun lanjut.

Tebing yang cukup seru dan perlu dicoba! Salam lestari!

Categories
Agenda Garba Featured Headline

SESSION HUTAN GUNUNG GARBA WIRA BHUANA

Peserta Session dari kiri ke kanan : Syaiful Qowiy, Ahmad Iqbal Morgan, Yuli Julaila, Krisnanda Theo

Session Hutan Gunung Garba Wira Bhuana telah berlangsung dengan lancar pada 13-18 Februari 2017 di Kawasan Gunung Wilis. Dimulai dengan upacara pemberangkatan hari Senin pukul 08.00 WIB, rombongan berangkat dan dapat tiba kembali ke Sekretariat Garba Wira Bhuana pada hari Minggu pukul 17.30 WIB, dengan sebelumnya mampir dulu ke Sekretariat Mapala Pasca IAIN Ponorogo.

Gunung Wilis dipilih karena kesulitan medan dan kondisi hutannya yang masih sangat alami. Hutannya pun menyimpan makanan yang lumayan banyak, baik hewani maupun nabati. Suasana hutan yang sangat rapat antar pohonnya, menjadikan pemandangan yang mistis ketika kabut turun, bahkan matahari pun hanya bisa menyembul setitik setitik dintara daun-daun yang rimbun.

“Wilis merupakan gunung yang menarik dari segi fisik dan ‘non-fisik’. Jika mulai bingung, duduk, tenang, dan berpikir dulu. Perjalanan satu minggu merupakan perjalanan yang panjang jadi tetap berhati-hati.” Pesan yang diberikan oleh Kak Rendra saat sambutan NIA terkecil pada upacara pemberangkatan.

Rumah terakhir merupakan tempat rombongan menitipkan sepeda motor, berada di Dusun Pandansari, Pudak Wetan, Pudak, Ponorogo, tepatnya di kediaman Bapak Setu. Bersambut senyum ramah dan segelas kopi untuk masing-masing dari kami, obrolan hangat tentang Kawasan Gunung Wilis pun dimulai. Tentang satwa liar yang masih sering dijumpai di kawasan hutan, cerita-cerita pengalaman beliau menyusuri hutan, dan banyak ‘wejangan’ yang diberikan oleh beliau sebelum kami mulai kegiatan di kawasan tersebut. Semakin menguatkan bahwa Gunung Wilis merupakan gunung yang menarik.

Session Hutan Gunung yang dijalani oleh 4 orang anggota muda Garba Wira Bhuana angkatan XXVIII ini mencangkup 4 materi inti, yaitu navigasi darat, survival, pertolongan penderita gawat darurat, dan manajemen perjalanan, kemudian ditambah kerjasama tim. Peserta berbekal plot perencanaan tempat camp dan dua poin dari pengurus yang harus dicari dengan ilmu navigasi darat yang telah mereka peroleh. Selain itu, praktek materi survival seperti perapian, jerat, camp para-para, bivak alam, dan botani zoologi praktis juga dilakukan selama 6 hari berkegiatan di Kawasan Wilis. Pada hari terakhir, merupakan praktek materi pertolongan penderita gawat darurat, peserta mencoba mengevakuasi korban sampai ke rumah warga terdekat.

Resection, intersection, dan orientasi medan mutlak dilakukan oleh peserta sepanjang 6 hari perjalanan session agar mencapai titik yang ditentukan. Peserta tidak jarang juga melakukan man to man karena minimnya titik ekstrim ketika masuk hutan. Identifikasi medan pun dilakukan berulang kali agar yakin bahwa titik tersebut merupakan titik ekstrim yang ini atau yang itu, saking banyaknya puncak yang terlihat.

Dapat pulang kembali dan sampai di sekretariat adalah hal yang sangat patut disyukuri mengingat medan dan kondisi gunungnya yang menarik. Untung juga, bahwa semua peserta session tidak mengalami kecelakaan atau luka-luka yang berarti sehingga dapat meneruskan kegiatan begitu tiba di Solo. Dan agenda terdekat adalah Laporan Pertanggungjawaban. Semangat terus!

Hello genk!

Categories
Headline Refleksi

Mengakhiri Tahun dengan Kepengurusan Baru

 

Disinilah semuanya diawali dan diakhiri, Musyawarah Umum Anggota XXI. Dan bertemulah lagi kita diawal perjalanan kepengurusan yang baru…

Musyawarah Umum Anggota (MUA), forum tertinggi organisasi Garba Wira Bhuana, sukses dilaksanakan Jumat-Senin, 2-5 Desember 2016. Musyawarah yang berlangsung selama 4 hari ini bertempat di rumah anggota Gama Prabowo beralamtkan Blorong Kidul RT/RW 01/01, Ngunut, Jumantono, Karanganyar. Kegiatan yang bisa dihadiri oleh semua anggota Garba Wira Bhuana ini menghasilkan sebuah keputusan yang sangat penting bagi keberlangsungan organisasi, yaitu ketua umum yang baru. Terpilihnya ketua umum yang baru, Gama Prabowo (GWB 27302 NSA) adalah keputusan terakhir dan sangat dinantikan oleh semua anggota Garba Wira Bhuana karena tujuan utama MUA tahun ini (MUA XXI) adalah regenerasi pengurus. MUA telah lama berlangsung. Kepengurusan baru pun telah tersusun dan telah menjalankan fungsinya.

Siapa saja kah yang menjadi pengurus periode ini?

Naaah, ini dia susunannya…

Ketua umum : Gama Prabowo (GWB 27302 NSA)

 

Bidang I Penelitian dan Pengembangan

Koordinator bidang : Adhitya Bayu Prakasa (GWB 27292 NSA)

Staff bidang : Sri Meryarsih (GWB 26287 SJS)

 

Bidang II Kesekretariatan

Koordinator bidang : Nofia Nurul Falah (GWB 27304 NSA)

Sekretaris : Nofia Nurul Falah (GWB 27304 NSA)

Bendahara : Raih Sukma Prasiswi (GWB 27307 NSA)

Logistik : Dwi Purnomo Adhi (GWB 27300 NSA), Yudi Purwanto (GWB 26291 SJS)

 

Bidang III Operasional

Koordinator bidang : Rori Ardian Putra (GWB 27309 NSA)

Olahraga Arus Deras / ORAD : Rori Ardian Putra (GWB 27309 NSA)

Rock Climbing : Aji Nur Rohman (GWB 27293 NSA)

Caving : Dwi Purnomo Adhi (GWB 27300 NSA)

Hutan Gunung : Faizul Awali Hidayatullah (GWB 27301 NSA)

 

Bidang IV Lingkungan Hidup : Dimas Fika Pramudita (GWB 27299 NSA)

Bidang V Hubungan Masyarakat

Koordinator bidang : Brigitta Destiyani Puspaningrum (GWB 27296 NSA)

Humas eksternal : Brigitta Destiyani Puspaningrum (GWB 27296 NSA)

Humas internal : Okgy Ardhovan (GWB 27305 NSA)

Bidang VI Pembinaan Prestasi : Furqoni Sya’bana (GWB 26282 SJS)

 

Dewan Pertimbangan Pengurus (DPP) :

Sam Anjar Rantona (GWB 26285 SJS)

Ratna Dwi Jayanti (GWB 25269 CPS)

Permadi Riyanto (GWB 25268 CPS)

Selamat mengabdi dan berkarya untuk kepengurusan yang baru! Semoga dapat membawa Garba lebih baik lagi.

HELLO GENK!

Pendaki yang mencapai puncak hanyalah yang tangguh. Pejuang yang mencapai kesuksesan adalah yang sabar. Kita diberi pilihan untuk menjadi manusia yang rapuh oleh tantangan atau justru menghebat seiring hebatnya rintangan. Percayalah, badai selalu menyisakan pohon-pohon terkuat.

Categories
Featured Headline

Mengenal Orienteering

 

 

Orienteering merupan salah satu cabang olah raga alam bebas yang menantang dan membutuhkan ilmu khusus mengenai medan, peta, dan kompas. Awal istilah Orienteering sendiri muncul dari negara Swedia, yang bermakna melintasi suatu daerah yang tidak dikenali sebelumnya dengan dibantu dengan peta dan kompas. Orienteering awalnya digunakan oleh kalangan militer negara-negara Skandinavia (Swedia, Norwegia, dan Finlandia) sebagai suatu metode latihan peta dan kompas pada pertengahan 1880-an.

Seorang pemimpin kepanduan, Mayor Ernst Killender mempopulerkan orienteering di Swedia. Beliau mengadakan lomba orienteering dengan mengambil lokasi di pedesaan yang berpanorama indah dan hawa sejuk sekitar lima belas kilometer selatan Stockholm. Lomba pertama diadakan pada bulan Maret 1919 dengan jumlah peserta 155 orang militer. Sejak saat itu orienteering mulai berkembang di Skandinavia dan Beliau dikenal sebagai Bapak Orienteering.

Dasar permainan dalam olah raga orienteering adalah sebuah perjalanan pencarian titik-titik kontrol yang disebar dalam medan permainan dan telah digambarkan dalam peta yang menjadi alat bantu para pemainnya. Pemenang dalam orienteering ditentukan oleh nilai yang diperolehan dari titik-titik kontrol yang ditemukan serta waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pencarian titik-titik kontrol tersebut.  Standarnya dalam sebuah pertandingan orienteering terdiri dari Start, rangkaian titik-titik kontrol dan finish.

Federasi Orienteering

Saat ini orienteering merupakan olah raga yang mendunia dan memiliki federasi sebagai induk organisasi orienteering dunia yaitu International Orienteering Federasi (IOF). IOF membagi orienteering dalam empat cabang yaitu: Foot Orienteering, Mountain Bike Orienteering, Ski Orienteering, dan Trail Orienteering. IOF telah berdiri sejak tahun 1961 dan diakui oleh Komite Olimpiade Internasional pada tahun 1977.

IOF beranggotakan federasi-federasi orienteering dari negara yang mengakui dan mendaftarkan diri sebagai anggota IOF. Saat ini, anggota IOF telah mencapai 79 negara dan Indonesia telah menjadi bagian dari IOF dengan Federasi Orienteering Nasional Indonesia (FONI).

FONI baru dideklarasikan pada tanggal 4 Agustus 2001 dan setahun berselang diakui menjadi anggota IOF dengan Status Anggota Tidak Penuh (Associate Member). Dengan adanya FONI di Indonesia menjadi jaminan akan perkembangan Orienteering di tanah air. Pada tahun 2016 ini untuk pertama kalinya FONI mengadakan perlombaan orienteering dengan format perlombaan series, total ada lima series dan akumulasi poin di setiap seriesnya. Ini merupakan langkah besar FONI dalam usahanya untuk mempopuler olah raga yang tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, namun juga mesti didukung dengan kekuatan mental dan kemampuan berfikir cepat, tepat, dan akurat dalam mencari titik control dalam suat medan pertandingan. (By : Sam Anjar Rantona)

Categories
Headline Urban Legends

Realisasi 30% RTH Surakarta : Apakah itu mimpi?

IMG_3328
Ruang terbuka hijau atau yang lebih sering disingkat RTH merupakan ruang-ruang yang terdapat dalam suatu wilayah dalam bentuk area atau kawasan maupun dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, ekonomi,social, budaya, dan estetika.
Kota Surakarta sebagai salah satu kota yang perkembangan dan pertumbuhan pembangunannya terbilang cepat di Indonesia saat ini tengah menghadapi permasalah RTH yang semakin berkurang jumlahnya. Kota Surakarta saat ini hanya memiliki luas RTH tidak lebih dari 25% baik itu RTH Publik maupun RTH Privat. Hal ini cukup delematis mengingat dalam Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang menentukan proporsi RTH dalam sebuah wilayah kota sedikitnya mencapai 30% RTH dengan RTH Publik sebesar 20%.
Dengan latar belakang tersebut maka Pemkot Surakarta saat ini tengah menyusun dan menggodok produk hukum berupa Raperda tentang Ruang Terbuka Hijau dengan target dapat mencapai luas wilayah RTH Kota Surakarta sebagaimana yang diamanatkan dalam UU 26/2007 tentang Penataan Ruang. Sejau ini Pemkot Surakarta sudah menghasilkan draft Raperda tentang Ruang Terbuka Hijau dan sudah diduskusikan kepada berbagai elemen masyarakat pada tanggal 11 April 2016 lalu. Diharapkan jika Raperda tersebut disahkan menjadi Perda cita-cita kota Surakarta memiliki RTH lebih dari 30% dapat tercapai.
Pertanyaan saat ini adalah apakah dengan disahkannya Raperda tersebut dapat menjamin terciptanya RTH yang ideal bagi kota Surakarta? Bagaimana RTH dapat bertambah tanpa menghambat proses pembangunan kota Surakarta menuju kota metropolitan? Hal ini tentu menjadi tantangan yang akan dihadapi oleh Raperda RTH jika berhasil disahkan dan harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak dalam proses pembangunan untuk tidak mengesampingkat aspek RTH dalm setiap pembangunan mereka.
Sifat ruang atau wilayah yang tetap dari sebuah kota juga akan menjadi pengganjal target 30% RTH kota Surakarta di tengah pembangunan kota yang juga membutuhkan ruang-ruang baru dalam prosesnya. Jika Raperda ini kedepan hanya mengikat untuk pembangunan yang akan dilakukan setelah Raperda ini disahkan, rasanya target 30% RTH di kota Surakarta hanya sekedar menjadi mimpi yang entah kapan terwujud.
Namun jika Raperda ini kemudian juga berlaku surut bagi pembangunan yang sudah terlaksana tentu resiko timbulnya pertentangan dari masyarakat atau pihak-pihak yang merasa diberatkan dengan ketentuan tersebut akan besar. Lalu apakah dengan kemungkinan pertentangan yang akan timbul tersebut kemudian Raperda tentang RTH ini masih dapat dilaksanakan. Persolaan-persoalan tersebut harus dapat dijawab oleh Pemkot Surakarta secara bijak dan penuh perhitungan matang kedepannya. Sam Anjar Rantona 

Categories
Agenda Garba Headline

Pengurus Garba Wira Bhuana 2016

Pengurus Garba 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketua Umum :
Sam Anjar Rantona

Sekretaris :
Fitri Nurul Firdaus

Bendahara :
Ratna Dwi Jayanti

Litbang :
Sri Meryarsih

Oprasional :
Antonius Indra Setiawan

Staff Rock Climbing :
Yahya Imam Thobrony

Staff Olahraga Air :
Sani Abdul Rohman

Staff Pembinaan Prestasi :
Furqoni Sya’bana

Logistik :
Yudi Purwanto

Humas Eksternal :
Yuanto Diyantikta

Humas Internal :
Atri Wahyu Mukti

Lingkungan Hidup :
Permadi Riyanto

Categories
Agenda Garba Headline

PENDIDIKAN DASAR KE-28 GARBA WIRA BHUANA

1443777944168

Pendidikan Dasar merupakan syarat wajib untuk menjadi bagian dari anggota organisasi. Pendidikan dasar GARBA WIRA BHUANA terbagi menjadi dua yakni pendidikan dasar pra-lapangan dan pendidikan dasar lapangan. Pertama pendidikan ruang merupakan pendidikan dasar pra-lapangan yang berada di dalam kampus dengan pemberian materi-materi dasar kepencintaalaman dan pembekalan materi selama pendidikan lapang dilaksanakan. Kedua, pendidikan lapangan merupakan praktek dari pembekalan materi ruang yang diadakan di lokasi yang sudah ditentukan.

Pendidikan Dasar GARBA WIRA BHUANA tahun ini merupakan pendidikan dasar ke 28 dengan jumlah peserta 17 orang dari berbagai fakultas lain. Pendidikan Dasar atau biasa disebut diksar ini berlangsung selama 7 hari yang dimulai dengan upacara pemberangkatan di halaman rektorat UNS pada tanggal 2 Oktober 2015. Upacara ini dibuka secara simbolis dengan penyerahan kapak dari Pembina Garba Wira Bhuana Bapak Tanjung kepada ketua umum Tunggal Ramdhani. Lokasi diksar lapangan dilakukan di tiga tempat yang berbeda yakni di Waduk Mulur Sukoharjo, tebing Karanglo Karanganyar, dan Gunung Lawu Karanganyar. Semua peserta dalam pendidikan ini sangat antusias dalam mengikutinya.

Selamat datang dan selamat bergabung dengan kami keluarga besar GARBA WIRA BHUANA. Tunjukkan kepedulianmu terhadap alam lingkungan dan jadilah bagian dari kami! Jaya Di Rimba Wibawa Di Kota.

HELLO GENK!!!
SALAM LESTARI

Categories
Agenda Garba Featured Headline

AKSI FLYING FOX GARBA WIRA BHUANA DI EXPO UNS 2015

IMG-20150904-WA0000Setelah penerimaan seleksi mahasiswa baru Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) terlaksana, terdapat kegiatan wajib yang harus diikuti oleh mahasiswa baru selain Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) yakni kegiatan EXPO sebagai ajang pengenalan dan perekrutan anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di UNS. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya UNS EXPO yang biasa digelar di gedung Student Center, kali ini UNS EXPO di gelar di gedung auditorium. Serta UNS EXPO 2015 tidak hanya mengundang mahasiswa baru program Strata 1 UNS saja, akan tetapi juga mengundang mahasiswa baru program Diploma.

EXPO UNS ini hanya diikuti oleh UKM tingkat Universitas saja. Ya, kami GARBA WIRA BHUANA turut andil menjadi bagian kegiatan ini dengan menampilkan aksi Flying Fox yang dilakukan oleh anggota kami sebagai MC dari dalam gedung auditorium lantai 2 menuju atas panggung guna menarik perhatian mahasiswa baru. Antusias para mahasiswa baru, terlihat ketika mereka menyaksikan aksi tersebut. Setelah aksi Flying fox sampai di tengah panggung, 2 MC dari kami GARBA WIRA BHUANA melanjutkan presentasi untuk memperkenalkan UKM Mapala tertua se-Solo Raya ini.

Beberapa kali terdengar suara riuh tepuk tangan ketika mendengarkan prestasi yang telah di raih oleh UKM kami. Dan tidak lupa kami mengajak beberapa mahasiswa baru untuk maju kedepan panggung untuk menjawab pertanyaan seputar alam dan jika berhasil menjawab peserta diberi hadiah berupa stiker GARBA WIRA BHUANA serta beberapa voucher diskon belanja.

Ketika waktu istirahat tiba, para mahasiswa di beri kesempatan untuk mengitari stand-stand UKM yang berdiri mengelilingi ruang auditorium. Stand kami disini dihias sedemikian rupa agar terlihat bagus dan menarik. Dari sini banyak mahasiswa yang mampir ke stand kami untuk mendaftar menjadi anggota GARBA WIRA BHUANA dengan mengisi formulir dan presensi yang telah kami sediakan. Walaupun dengan berjubel mahasiswa, mereka tetap antusias untuk mendaftarkan diri menjadi anggota kami GARBA WIRA BHUANA.
SALAM LESTARI!!