Categories
Agenda Garba Pendidikan Garba

PENDAFTARAN ANGGOTA BARU GARBA WIRA BHUANA MAPALA UNS 2017

Cause ordinary teaches nothing. Come and joins us, Garba Wira Bhuana Mapala UNS!

KETENTUAN UMUM

  1. Pendidikan Dasar Garba Wira Bhuana XXX diselenggarakan 2 (dua) tahap, berupa Pendidikan Dasar Ruang (Kelas Kepencintaalaman) dan Pendidikan Diksar Lapangan.
  2. Kelas Kepencintaalaman diselenggarakan pada tangal 29 September – 1 Oktober 2017
  3. Pendidikan Dasar Lapangan diselenggarakan pada tanggal 4 – 8 Oktober 2017
  4. Pendaftaran dibuka tanggal 19 Agustus – 4 September 2017
  5. Pertanyaan terkait pendaftaran dapat menghubungi 0856-0095-2017 (Nofia) dan 0856-9637-0656 (Azhar)

 

PERSYARATAN PENDAFTAR

  1. Mahasiswa aktif Universitas Sebelas Maret Surakarta, lancar berbahasa Indonesia
  2. Berusia sekurang-kurangnya 16 tahun pada saat mendaftar.
  3. Sehat Jasmani dan Rohani.

 

CARA PENDAFTARAN

Pengambilan formulir dapat dilakukan dengan datang langsung ke Sekretariat Garba Wira Bhuana (Gd. Grha UKM UNS Lt. 1, Jl. Ir Sutami 36 A Surakarta 57126), atau download disini.

  1. Formulir dapat langsung diisi dan dikumpulkan ditempat.
  2. Apabila poin 1 tidak memungkinkan, formulir dapat diambil dan dikumpulkan dikemudian hari.
  3. Pengambilan dan pengumpulan formulir dapat dilakukan pada tanggal 19 Agustus – 4 September 2017
  4. Pengambilan formulir dapat diwakilkan dengan tetap mencantumkan nama pendaftar dan nomor telepon/handphone pendaftar.
  5. Pengumpulan formulir yang sudah diambil/di download dikumpulkan langsung ke sekretariat Garba Wira Bhuana.

 

KELENGKAPAN PENDAFTARAN

Pendaftar wajib menyertakan kelengkapan:

  1. Foto Copy Kartu Identitas (KTP/SIM/Kartu Mahasiswa) yang masih berlaku sebanyak 1 lembar.
  2. Pas Photo berwarna ukuran 4×6 cm sebanyak 1 lembar. Photo 6 bulan terakhir.
  3. Surat keterangan sehat.
  4. Surat izin orang tua (disediakan oleh panitia).

Catatan: Dokumen kelengkapan diserahkan pada saat pengumpulan formulir.

JADWAL KEGIATAN

No. Kegiatan Tanggal Keterangan
1 Pendaftaran dan Pengumpulan Formulir. 19 Agustus – 4 September 2017
2 Technical Meeting dan batas terakhir pengumpulan formulir 4 September 2017  Formulir dapat dikumpulkan saat Technical Meeting
3 Seleksi
a. Tes Fisik 9 dan 10 September 2017
b. Tes Wawancara 11-13 September 2017
4 Pengumuman Hasil Seleksi 14 September 2017
5 Check all dan karantina peralatan 28 Sep – 2 Oktober 2017 Bagi yang masih kekurangan peralatan, Perkembangan kelengkapan peralatan akan dipantau setiap hari.

Peralatan dikumpulkan di sekretariat GWB terhitung sejak tanggal ditetapkan.

6 Kelas Kepencintaalaman 29 Sep – 1 Oktober 2017 Pengenalan materi dasar kepencintaalaman
7 Pendidikan dasar lapangan 4-8 Oktober 2017

 

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI

Hasil seleksi akan diumumkan di Sekretariat Garba Wira Bhuana, website www.garbawirabhuana.com, dan media sosial Garba Wira Bhuana.

Categories
Agenda Garba Featured Headline

Berlatih Lebih Jauh–Gladian Garba Wira Bhuana Rock Climbing 2017

Keseruan anggota mencoba menjajakkan kaki di titik tertinggi tebing
Keseruan anggota mencoba menjajakkan kaki di titik tertinggi tebing Samigaluh

Gladian Garba Wira Bhuana atau biasa disebut dengan Glagar adalah kegiatan latihan yang dapat diikuti oleh semua anggota guna menambah kecakapan anggota Garba Wira Bhuana. Pada tahun 2017 ini, serangkaian Glagar dilaksanakan antara bulan Maret – Mei. Glagar pertama yang telah dilaksanakan adalah rock climbing. Glagar rock climbing terlaksana pada tanggal 17-19 Maret 2017. Latihan ini mengambil tempat di tebing Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta. Dekat dengan lokasi basecamp rafting Sungai Progo bawah.

Diikuti oleh 23 anggota Garba Wira Bhuana, kegiatan Glagar Rock Climbing ini memiliki 2 bagian materi, materi dasar dan materi lanjutan. Materi dasar untuk anggota muda dan materi lanjutan untuk anggota penuh. Beberapa materi yang dipraktikkan diantaranya top rope climbing, artificial sport climbing, artificial climbing, rigging, pembuatan pengaman tubuh, dan pemasangan pengaman sisip. Terdapat 3 jalur panjat yang digunakan, tetapi tebing Samigaluh sendiri memiliki banyak sekali jalur dan telah terpasang hanger di tebingnya.

“Sebagian besar anggota sudah dapat mencapai dan memahami materi yang diberikan, hanya saja kurang di bagian teknik dan jam terbang panjat. Perlunya latihan rutin, misal boulder untuk mengasah teknik dan ketahanan otot saat memanjat. Panjat tidak hanya memerlukan otot, tetapi juga otak. Maka dari itu teknik dalam panjat harus selalu diasah,” pendapat Aji Nur Rohman selaku komandan lapangan kegiatan Glagar Rock Climbing.

Tebing Samigaluh dapat ditempuh sekitar 3 jam perjalanan dari Solo, tepatnya kampus UNS Kenthingan. Terdapat 2 rute yang dapat dilewati, yaitu lewat Ringroad Utara dan lewat Jogja kota. Dua rute tersebut memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Rute Ringroad lebih mudah untuk dilewati karena sepanjang jalur merupakan jalur dua arah, tetapi rute kota lebih cepat untuk mencapai tempat tujuan. Jika ingin melewati Rute Ringroad, setelah memasuki Ringroad Utara Jogja perempatan pertama belok kiri (arah Godean/Dekso) lalu lurus terus ikuti jalan raya sampai menemukan perempatan lampu merah yang biasa disebut perempatan Dekso. Dari perempatan Dekso masih lurus mengikuti jalan raya kurang lebih 3 kilometer. Di sebelah kanan terdapat banner bertuliskan “panjat tebing” lalu masuk ke jalan tersebut. Jalan belok kanan merupakan jalan cor semen yang sangat menanjak dan sempit. Perlu kondisi kendaraan (motor) yang baik, dan saat musim hujan jalan tersebut licin. Perlu berhati-hati ketika melewati jalan ini.

Tebing Samigaluh yang terletak di Desa Purwoharjo ini merupakan tebing dengan karakteristik batuan limestone atau batu kapur. Terdapat 2 tebing yang terdapat di area ini. Tebing pertama terletak sekitar 10 meter ke arah timur basecamp dan mempunyai 3 jalur sport dengan ketinggian kurang lebih 6 meter. Tebing kedua terletak agak jauh, kurang lebih 50 meter ke arah selatan basecamp. Tebing kedua memiliki 4 jalur sport yang masih bagus kondisi hanger-nya dengan ketinggian kurang lebih 20 meter. Namun diluar jalur yang sudah tersedia, masih banyak jalur yang dapat di-explore untuk pemanjat tingkat pemula maupun lanjut.

Tebing yang cukup seru dan perlu dicoba! Salam lestari!

Categories
Refleksi

His Story About Diksar is Not History, Cieee!

Hello Gang!

Aku kadang – kadang heran juga. Kenapa aku dulu masuk pecinta alam? Ya betul “kenapa” kata kuncinya! Bukan apa yang memberi inspirasi atau memotivasiku menjadi pecinta alam. Padahal aku tidak pernah berpikir bahwa menjadi pecinta alam itu keren! Aku belum pernah tahu apa itu pecinta alam. Di SMA ku tidak ada pecinta alam saat itu. Aku-pun tidak banyak melihat tayangan di TV mengenai pecinta alam. Saat aku kecil hanya ada satu TV saja.

Aku ingat pernah mendengar kabar terjadi kecelakaan di gunung hingga menewaskan beberapa siswa dari suatu pondok pesantren. Itu beberapa saat sebelum aku tertarik masuk pecinta alam. Lalu saat aku melihat iklan Diksar (Pendidikan Dasar) Garba Wira Bhuana dan membaca beberapa materi yang akan disajikan, aku mulai penasaran. Untung saat itu belum ada google! Jadi aku tidak begitu takut dan memutuskan untuk ikut. Aku cukup kaget dengan apa yang aku alami pada saat Diksar. Bagai seorang anak yang terseret arus yang kuat dan tak kuasa untuk menggapai tepi!

Muncul tenggelam, muncul tenggelam terseret waktu yang sama panjangnya dengan masa kuliahku yang molor, aku merasa banyak belajar! Aku mencoba – coba mencari banyak manfaat untuk membenarkan lamanya waktu yang aku curahkan menjadi pecinta alam! Aku kadang merasa menjadi bagian dari upaya mencintai alam, walaupun sangat kecil. Seringkali pada saat itu, ditengah jalan aku gelisah dan bertanya beginikah pecinta alam itu? Atau kurang-kah upayaku menjadi pecinta alam? Salahkah upaya – upaya yang aku perbuat?

Naik Gunung, Panjat Tebing, Susur Gua, Membersihkan Gunung dari Sampah, dan apalagi? Memotret? Bukankah itu bisa dilakukan tanpa menjadi pecinta alam? Apa bedanya dengan pecinta alam? Diksar? Memangnya ada yang lain di dalam Diksar? Ya ada! Sedikit. Misalnya Teknik Survival, Pelajaran mengenai SAR, Navigasi Darat, Manajemen Perjalanan, Dasar – Dasar Organisasi, masih ada yang lain. Aku lupa!

Namun orang bisa bilang “TEORI!” Sekarang, bukankah semua dapat kita baca lewat buku dan internet? Seingatku aku tidak pernah mendapatkan pelajaran dari buku dan internet mengenai pekatnya  kabut, dinginnya gunung, ketakutan dan kebingungan! keputus-asaan, solidaritas. Bahkan sampai sekarang belum ada yang bisa menciptakan simulasi itu secara online! Mungkin sebentar lagi. Dengan Bioskop 4D! Sehingga semuanya berjalan dengan aman! Tanpa korban! Siapa tahu!

Sampai saat itu datang, aku kira pecinta alam masih sangat perlu ada. Bukan untuk membuat mati di gunung, di tebing, di gua, di sungai atau di laut. Aku punya teman seangkatan yang mati, eh maaf meninggal di sungai karena kecelakaan akibat banjir ketika melakukan latihan. Aku punya adik angkatan yang mengalami hal yang hampir sama.

Penyebab kematian mereka tentu kecelakaan atau kejadian tersebut. Namun orang bisa saja menarik kesimpulan jauh kebelakang bahwa penyebabnya adalah “menjadi pecinta alam” Bila mereka tidak menjadi pecinta alam, apakah mereka tidak akan melakukan kegiatan alam bebas itu? Bisa iya bisa tidak jawabannya. Bagaimana bila jawabannya “tidak? Artinya mereka tidak menjadi pecinta alam namun tetap melakukan kegiatan di alam bebas. Artinya dia melakukan itu tanpa pengetahuan dan dasar pelatihan yang benar! Aku kira resikonya akan lebih besar.

Jadi aku mengajak kita semua setuju bahwa Diksar memang lebih baik daripada tidak diksar! Ya tentu saja kita kemudian harus berpikir mengenai diksar yang memberikan manfaat yang sebesar – besarnya pada peserta diksar. Kita kemudian harus selalu menyesuaikan atau memperbaiki secara terus menerus Diksar kita. Siapa yang bisa di Diksar, siap yang men-Diksar, bagaimana caranya, dimana pelaksanaannya dan sebagainya. upaya – upaya memperbaiki Diksar harus selalu diberi penghargaan.

Jadi menjadi pecinta alam melalui Diksar akan berpikir harus mengadakan Diksar yang lebih baik. Diksar yang lebih baik akan membuat pesertanya membuat Diksar yang lebih baik lagi dan seterusnya. Aku rasa ini tidak akan pernah dialami pendaki gunung biasa. Kabut, dingin, hujan, panas dirasakan pendaki gunung juga tapi aku mengalami membuat Diksar. Aku berharap Diksar yang diadakan adik – adik ku jauh lebih baik bagi masanya sekarang.

Mendaki gunung, susur gua, panjat tebing, panjat diding, tentu kita senang. Apa jeleknya bila kita menyenangi apa yang kita perbuat? Karena kita tahu itu baik. Karena kita tahu bagaimana melakukannya dengan benar dan karena kita tahu kapan waktu yang tepat untuk melakukannya atau tidak melakukannya. Karena kita diajari mengontrol diri, diajari manajemen waktu. Ya dalam Diksar itu kita mempelajarinya.

Teman, jangan lupa tetap berhati – hati dan selalu senang berprestasi!