Categories
Agenda Garba Featured Gallery Headline Kreatifitas Pendidikan Garba Refleksi

Gladian Garba Wira Bhuana

Categories
Featured Gallery Headline Pendidikan Garba

Pendidikan Dasar Garba Wira Bhuana XXXII


Hello Gank!
Categories
Agenda Garba Featured Headline

Berlatih Lebih Jauh–Gladian Garba Wira Bhuana Rock Climbing 2017

Keseruan anggota mencoba menjajakkan kaki di titik tertinggi tebing
Keseruan anggota mencoba menjajakkan kaki di titik tertinggi tebing Samigaluh

Gladian Garba Wira Bhuana atau biasa disebut dengan Glagar adalah kegiatan latihan yang dapat diikuti oleh semua anggota guna menambah kecakapan anggota Garba Wira Bhuana. Pada tahun 2017 ini, serangkaian Glagar dilaksanakan antara bulan Maret – Mei. Glagar pertama yang telah dilaksanakan adalah rock climbing. Glagar rock climbing terlaksana pada tanggal 17-19 Maret 2017. Latihan ini mengambil tempat di tebing Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta. Dekat dengan lokasi basecamp rafting Sungai Progo bawah.

Diikuti oleh 23 anggota Garba Wira Bhuana, kegiatan Glagar Rock Climbing ini memiliki 2 bagian materi, materi dasar dan materi lanjutan. Materi dasar untuk anggota muda dan materi lanjutan untuk anggota penuh. Beberapa materi yang dipraktikkan diantaranya top rope climbing, artificial sport climbing, artificial climbing, rigging, pembuatan pengaman tubuh, dan pemasangan pengaman sisip. Terdapat 3 jalur panjat yang digunakan, tetapi tebing Samigaluh sendiri memiliki banyak sekali jalur dan telah terpasang hanger di tebingnya.

“Sebagian besar anggota sudah dapat mencapai dan memahami materi yang diberikan, hanya saja kurang di bagian teknik dan jam terbang panjat. Perlunya latihan rutin, misal boulder untuk mengasah teknik dan ketahanan otot saat memanjat. Panjat tidak hanya memerlukan otot, tetapi juga otak. Maka dari itu teknik dalam panjat harus selalu diasah,” pendapat Aji Nur Rohman selaku komandan lapangan kegiatan Glagar Rock Climbing.

Tebing Samigaluh dapat ditempuh sekitar 3 jam perjalanan dari Solo, tepatnya kampus UNS Kenthingan. Terdapat 2 rute yang dapat dilewati, yaitu lewat Ringroad Utara dan lewat Jogja kota. Dua rute tersebut memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Rute Ringroad lebih mudah untuk dilewati karena sepanjang jalur merupakan jalur dua arah, tetapi rute kota lebih cepat untuk mencapai tempat tujuan. Jika ingin melewati Rute Ringroad, setelah memasuki Ringroad Utara Jogja perempatan pertama belok kiri (arah Godean/Dekso) lalu lurus terus ikuti jalan raya sampai menemukan perempatan lampu merah yang biasa disebut perempatan Dekso. Dari perempatan Dekso masih lurus mengikuti jalan raya kurang lebih 3 kilometer. Di sebelah kanan terdapat banner bertuliskan “panjat tebing” lalu masuk ke jalan tersebut. Jalan belok kanan merupakan jalan cor semen yang sangat menanjak dan sempit. Perlu kondisi kendaraan (motor) yang baik, dan saat musim hujan jalan tersebut licin. Perlu berhati-hati ketika melewati jalan ini.

Tebing Samigaluh yang terletak di Desa Purwoharjo ini merupakan tebing dengan karakteristik batuan limestone atau batu kapur. Terdapat 2 tebing yang terdapat di area ini. Tebing pertama terletak sekitar 10 meter ke arah timur basecamp dan mempunyai 3 jalur sport dengan ketinggian kurang lebih 6 meter. Tebing kedua terletak agak jauh, kurang lebih 50 meter ke arah selatan basecamp. Tebing kedua memiliki 4 jalur sport yang masih bagus kondisi hanger-nya dengan ketinggian kurang lebih 20 meter. Namun diluar jalur yang sudah tersedia, masih banyak jalur yang dapat di-explore untuk pemanjat tingkat pemula maupun lanjut.

Tebing yang cukup seru dan perlu dicoba! Salam lestari!

Categories
Agenda Garba Featured Headline

SESSION HUTAN GUNUNG GARBA WIRA BHUANA

Peserta Session dari kiri ke kanan : Syaiful Qowiy, Ahmad Iqbal Morgan, Yuli Julaila, Krisnanda Theo

Session Hutan Gunung Garba Wira Bhuana telah berlangsung dengan lancar pada 13-18 Februari 2017 di Kawasan Gunung Wilis. Dimulai dengan upacara pemberangkatan hari Senin pukul 08.00 WIB, rombongan berangkat dan dapat tiba kembali ke Sekretariat Garba Wira Bhuana pada hari Minggu pukul 17.30 WIB, dengan sebelumnya mampir dulu ke Sekretariat Mapala Pasca IAIN Ponorogo.

Gunung Wilis dipilih karena kesulitan medan dan kondisi hutannya yang masih sangat alami. Hutannya pun menyimpan makanan yang lumayan banyak, baik hewani maupun nabati. Suasana hutan yang sangat rapat antar pohonnya, menjadikan pemandangan yang mistis ketika kabut turun, bahkan matahari pun hanya bisa menyembul setitik setitik dintara daun-daun yang rimbun.

“Wilis merupakan gunung yang menarik dari segi fisik dan ‘non-fisik’. Jika mulai bingung, duduk, tenang, dan berpikir dulu. Perjalanan satu minggu merupakan perjalanan yang panjang jadi tetap berhati-hati.” Pesan yang diberikan oleh Kak Rendra saat sambutan NIA terkecil pada upacara pemberangkatan.

Rumah terakhir merupakan tempat rombongan menitipkan sepeda motor, berada di Dusun Pandansari, Pudak Wetan, Pudak, Ponorogo, tepatnya di kediaman Bapak Setu. Bersambut senyum ramah dan segelas kopi untuk masing-masing dari kami, obrolan hangat tentang Kawasan Gunung Wilis pun dimulai. Tentang satwa liar yang masih sering dijumpai di kawasan hutan, cerita-cerita pengalaman beliau menyusuri hutan, dan banyak ‘wejangan’ yang diberikan oleh beliau sebelum kami mulai kegiatan di kawasan tersebut. Semakin menguatkan bahwa Gunung Wilis merupakan gunung yang menarik.

Session Hutan Gunung yang dijalani oleh 4 orang anggota muda Garba Wira Bhuana angkatan XXVIII ini mencangkup 4 materi inti, yaitu navigasi darat, survival, pertolongan penderita gawat darurat, dan manajemen perjalanan, kemudian ditambah kerjasama tim. Peserta berbekal plot perencanaan tempat camp dan dua poin dari pengurus yang harus dicari dengan ilmu navigasi darat yang telah mereka peroleh. Selain itu, praktek materi survival seperti perapian, jerat, camp para-para, bivak alam, dan botani zoologi praktis juga dilakukan selama 6 hari berkegiatan di Kawasan Wilis. Pada hari terakhir, merupakan praktek materi pertolongan penderita gawat darurat, peserta mencoba mengevakuasi korban sampai ke rumah warga terdekat.

Resection, intersection, dan orientasi medan mutlak dilakukan oleh peserta sepanjang 6 hari perjalanan session agar mencapai titik yang ditentukan. Peserta tidak jarang juga melakukan man to man karena minimnya titik ekstrim ketika masuk hutan. Identifikasi medan pun dilakukan berulang kali agar yakin bahwa titik tersebut merupakan titik ekstrim yang ini atau yang itu, saking banyaknya puncak yang terlihat.

Dapat pulang kembali dan sampai di sekretariat adalah hal yang sangat patut disyukuri mengingat medan dan kondisi gunungnya yang menarik. Untung juga, bahwa semua peserta session tidak mengalami kecelakaan atau luka-luka yang berarti sehingga dapat meneruskan kegiatan begitu tiba di Solo. Dan agenda terdekat adalah Laporan Pertanggungjawaban. Semangat terus!

Hello genk!

Categories
Featured Headline

Mengenal Orienteering

 

 

Orienteering merupan salah satu cabang olah raga alam bebas yang menantang dan membutuhkan ilmu khusus mengenai medan, peta, dan kompas. Awal istilah Orienteering sendiri muncul dari negara Swedia, yang bermakna melintasi suatu daerah yang tidak dikenali sebelumnya dengan dibantu dengan peta dan kompas. Orienteering awalnya digunakan oleh kalangan militer negara-negara Skandinavia (Swedia, Norwegia, dan Finlandia) sebagai suatu metode latihan peta dan kompas pada pertengahan 1880-an.

Seorang pemimpin kepanduan, Mayor Ernst Killender mempopulerkan orienteering di Swedia. Beliau mengadakan lomba orienteering dengan mengambil lokasi di pedesaan yang berpanorama indah dan hawa sejuk sekitar lima belas kilometer selatan Stockholm. Lomba pertama diadakan pada bulan Maret 1919 dengan jumlah peserta 155 orang militer. Sejak saat itu orienteering mulai berkembang di Skandinavia dan Beliau dikenal sebagai Bapak Orienteering.

Dasar permainan dalam olah raga orienteering adalah sebuah perjalanan pencarian titik-titik kontrol yang disebar dalam medan permainan dan telah digambarkan dalam peta yang menjadi alat bantu para pemainnya. Pemenang dalam orienteering ditentukan oleh nilai yang diperolehan dari titik-titik kontrol yang ditemukan serta waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pencarian titik-titik kontrol tersebut.  Standarnya dalam sebuah pertandingan orienteering terdiri dari Start, rangkaian titik-titik kontrol dan finish.

Federasi Orienteering

Saat ini orienteering merupakan olah raga yang mendunia dan memiliki federasi sebagai induk organisasi orienteering dunia yaitu International Orienteering Federasi (IOF). IOF membagi orienteering dalam empat cabang yaitu: Foot Orienteering, Mountain Bike Orienteering, Ski Orienteering, dan Trail Orienteering. IOF telah berdiri sejak tahun 1961 dan diakui oleh Komite Olimpiade Internasional pada tahun 1977.

IOF beranggotakan federasi-federasi orienteering dari negara yang mengakui dan mendaftarkan diri sebagai anggota IOF. Saat ini, anggota IOF telah mencapai 79 negara dan Indonesia telah menjadi bagian dari IOF dengan Federasi Orienteering Nasional Indonesia (FONI).

FONI baru dideklarasikan pada tanggal 4 Agustus 2001 dan setahun berselang diakui menjadi anggota IOF dengan Status Anggota Tidak Penuh (Associate Member). Dengan adanya FONI di Indonesia menjadi jaminan akan perkembangan Orienteering di tanah air. Pada tahun 2016 ini untuk pertama kalinya FONI mengadakan perlombaan orienteering dengan format perlombaan series, total ada lima series dan akumulasi poin di setiap seriesnya. Ini merupakan langkah besar FONI dalam usahanya untuk mempopuler olah raga yang tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, namun juga mesti didukung dengan kekuatan mental dan kemampuan berfikir cepat, tepat, dan akurat dalam mencari titik control dalam suat medan pertandingan. (By : Sam Anjar Rantona)

Categories
Agenda Garba Featured Headline

AKSI FLYING FOX GARBA WIRA BHUANA DI EXPO UNS 2015

IMG-20150904-WA0000Setelah penerimaan seleksi mahasiswa baru Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) terlaksana, terdapat kegiatan wajib yang harus diikuti oleh mahasiswa baru selain Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) yakni kegiatan EXPO sebagai ajang pengenalan dan perekrutan anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di UNS. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya UNS EXPO yang biasa digelar di gedung Student Center, kali ini UNS EXPO di gelar di gedung auditorium. Serta UNS EXPO 2015 tidak hanya mengundang mahasiswa baru program Strata 1 UNS saja, akan tetapi juga mengundang mahasiswa baru program Diploma.

EXPO UNS ini hanya diikuti oleh UKM tingkat Universitas saja. Ya, kami GARBA WIRA BHUANA turut andil menjadi bagian kegiatan ini dengan menampilkan aksi Flying Fox yang dilakukan oleh anggota kami sebagai MC dari dalam gedung auditorium lantai 2 menuju atas panggung guna menarik perhatian mahasiswa baru. Antusias para mahasiswa baru, terlihat ketika mereka menyaksikan aksi tersebut. Setelah aksi Flying fox sampai di tengah panggung, 2 MC dari kami GARBA WIRA BHUANA melanjutkan presentasi untuk memperkenalkan UKM Mapala tertua se-Solo Raya ini.

Beberapa kali terdengar suara riuh tepuk tangan ketika mendengarkan prestasi yang telah di raih oleh UKM kami. Dan tidak lupa kami mengajak beberapa mahasiswa baru untuk maju kedepan panggung untuk menjawab pertanyaan seputar alam dan jika berhasil menjawab peserta diberi hadiah berupa stiker GARBA WIRA BHUANA serta beberapa voucher diskon belanja.

Ketika waktu istirahat tiba, para mahasiswa di beri kesempatan untuk mengitari stand-stand UKM yang berdiri mengelilingi ruang auditorium. Stand kami disini dihias sedemikian rupa agar terlihat bagus dan menarik. Dari sini banyak mahasiswa yang mampir ke stand kami untuk mendaftar menjadi anggota GARBA WIRA BHUANA dengan mengisi formulir dan presensi yang telah kami sediakan. Walaupun dengan berjubel mahasiswa, mereka tetap antusias untuk mendaftarkan diri menjadi anggota kami GARBA WIRA BHUANA.
SALAM LESTARI!!

Categories
Agenda Garba Featured Headline

Melangkah Kedepan Tanpa Melupakan Sejarah – Rangkaian HUT Garba Wira Bhuana ke-38

Donor Darah
napak tilas
renungan
eksternal
cats

Apa sih makna hari ulang tahun atau biasa disingkat HUT sendiri? Perayaan akbar? Apa hura-hura? Atau bertambahnya usia menjadi lebih tua? Apapun itu, hari ulang tahun merupakan refleksi diri menuju pendewasaan dan peningkatan kualitas diri. Begitu pula untuk sebuah organisasi, hari ulang tahun merupakan wujud dari refleksi diri menuju kematangan dalam organisasi dan peningkatan kualitas berorganisasi.

“Melangkah Kedepan Tanpa Melupakan Sejarah”, sebuah kalimat yang menggambarkan organisasi Pencinta Alam Garba Wira Bhuana Mapala UNS yang sudah berumur ke-38 tahun tepatnya jatuh pada tanggal 18 Juni 2015. Dengan bertambahnya usia kami, kami tak lupa selalu bersyukur kepada Tuhan Sang Pencipta yang telah menganugrahkan bumi sebagai tempat berpijak kami dan sebagai sarana tempat kami menimba ilmu khususnya pada bidang kepencintaalaman.

Perayaan HUT kami wujudkan dalam 5 rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam waktu satu setengah bulan yang mana digolongkan menjadi 2 yakni Eksternal dan Internal. Rangkaian kegiatan HUT Eksternal terdiri dari 3 kegiatan:
1. Donor darah
Kegiatan ini diadakan di Aula Kampus Psikologi UNS Mesen (Jl Urip Sumoharjo no 110 Surakarta) pada hari Senin, 8 Juni 2015 yang berkerjasama dengan PMI Surakarta.
*If you donate money you give food,but if you donate blood you give life!*
2. HUT Eksternal
Pada perayaan HUT Eksternal, kami Garba WIra Bhuana mengundang seluruh Organisasi Pencinta Alam (OPA) se-Surakarta dan luar Surakarta seperti dari kota Sukoharjo, Semarang, Salatiga, Kudus, Yogyakarta, Purwokerto serta organisasi UKM Univ Grha UNS dan SAR. HUT Eksternal dirayakan pada tanggal 23 Juni 2015 yang bertempat di gedung Student Center UNS.
“Melangkah Kedepan Tanpa Melupakan Sejarah”
3. Bakti Sosial
Bakti Sosial yang jatuh pada bulan Ramadhan tahun ini berkegiatan buka bersama dengan anak-anak kecil setempat yang diselenggarakan Di Dukuh Sepi Desa Jrakah Kecamatan Selo – Boyolali pada tanggal 28 Juni 2015.
“Bakti Sosial Garba Wira Bhuana : Dare To Care”

Untuk rangkaian kegiatan HUT Internal terdiri dari 2 kegiatan, yaitu:
1. Napak Tilas + Renungan
Kegiatan napak tilas dan renungan ini wajib dilakukan untuk memperingati HUT GWB yang dilakukan di berbeda tempat namun dalam satu waktu. Napak tilas dilakukan pada tanggal 16-18 Juni 2015 menuju puncak Kentheng Songo Gn. Merbabu via Jrakah dan turun via Selo. Puncak acara dari napak tilas yang diadakan di puncak merbabu juga diadakan di kampus sebagai acara renungan yang dilakukan tepat pada pukul 00.00 18 Juni 2015.
2. Temu Kangen Anggota GWB
Acara yang akan diselenggarakan pada tanggal 20-21 Juli 2015 kelak diadakan di daerah Telaga Dringo yang akan dihadiri oleh anggota aktif dan anggota luar biasa (ALB). Kegiatan ini berfungsi untuk menjembatani sararana bersilaturahim antara junior dan senior khususnya anggota luar biasa dengan anggota aktif.

Banyaknya bentuk perayaan ulang tahun yang terpenting adalah tidak keluarnya inti dari esensi makna bertambahnya umur yakni selalu bersyukur kepada Sang Pencipta dan bertambahnya usia organisasi menjadi peringatan bagi organisasi untuk selalu berkembang lebih maju dan maju lagi.

HELLO GENK!!!

Categories
Agenda Garba Featured Headline Refleksi

Garba Wira Bhuana : Dare To Care

page
(Minggu, 28 Juni 2015) Garba Wira Bhuana Dare To Care, begitulah tema bakti sosial yang diadakan oleh penggiat alam bebas Mahasiswa Pencinta Alam UNS dalam rangka acara rangkaian HUT Garba Wira Bhuana ke-38 pada bulan puasa ini. Bakti sosial merupakan wujud rasa kemanusiaan antar sesama manusia yang didalamnya memiliki tujuan untuk mewujudkan rasa kasih dan peduli terhadap sesama.

Kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan di Dukuh Sepi Desa Jrakah Kecamatan Selo – Boyolali ini, diawali dengan sambutan oleh ketua panitia Marlita Pramuharti (GWB 27303 NSA-AM) lalu ditutup oleh Bapak Slamet Sutanto selaku Kepala Lurah Desa Jrakah. Acara selanjutnya yakni melakukan games-games seru yang diikuti oleh puluhan anak dari desa Jrakah yang mengikuti acara bakti sosial ini dengan penuh canda tawa dimana keseruan mulai tampak ketika acara bakti sosial ini dibuka.

Pada acara inti Bakti Sosial Garba Wira Bhuana Dare To Care ini yaitu ketika adzan berkumandang, anak-anak menyerukan doa buka bersama yang dipimpin oleh salah satu dari teman mereka. Ya, acara inti dari bakti sosial ini adalah buka bersama dengan anak-anak desa setempat yang dimana banyak anak-anak telah menjadi anak yatim piatu. Pada puncak acara bakti sosial ini dilakukan pembagian hadiah kepada masing-masing anak serta sesi foto bersama sebagai penutup dari kegiatan ini.

Categories
Featured Kreatifitas

Garba Wira Bhuana di Tanah Wirabuana

“A journey of a thousand miles begins with a single step” Lao Tze

Oleh GWB 22238 AWKB

“Hello Gank! Garba ! “

Garba Wira Bhuana di Tanah Wirabuana

Itulah kira-kira teriakan yang selalu terdengar di telinga ketika masa pendidikan dasar Garba Wira Bhuana Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta. Lengkingan itu pula yang selalu mngiringi langkah seorang Garbawana. Pagi itu sebuah tweet Konfusius membayangi pikiran saya, ya “ perjalanan ribuan mil dimulai dari langkah pertama”. Sebagai Anggota Muda (selanjutnya disebut AM), pengembaraan adalah bagian tak terpisahkan jalan hidup setiap AM, hingga pada suatu hari seorang kawan member kabar untuk ikut seleksi Ekspedisi NKRI koridor Sulawesi 2013.
Singkat cerita, pengumuman di website menerangkan bahwa seorang AM GWB lolos sebagai peserta E kspedisi. Lalu AM tersebut datang ke Posko Utama di Pusdikpassus Batujajar untuk menjalani cek fisik, psikologi dan Litsus. Dua hari di Batujajar, akhirnya seluruh peserta bergeser ke Situ Lembang. Sebuah tempat latihan Gunung Hutan Komando Pasukan Khusus TNI AD.
Selamat Pagi Ekspedisi !
Suara dari soundsystem membelah kabut di balik leuweung Tangkuban Perahu. Pembinaan fisik, mental spiritual dan pembekalan materi menjadi santapan sehari-hari. Satu suara dan ceria.
“tiada gunung terlalu tinggi, buat kami daki di siang hari, tiada jurang terlalu dalam buat kami susuri di malam gelap. hahahaa Hutan rimba padang ilalang kususuri jalanan jauh…”
Lirik yang membakar semanat itu mengiring kami pada sebuah pagi. Pagi yang masih dibungkus kabut dan angin lembah yang dingin. Sebuah angkutan raksasa bernama Hercules membawa kami menuju tanah Wira Bhuana, Sulawesi. Tanah putih, lautan biru dan kehijauan hutan yang pekat, kami datang.
Perjalanan dimulai dengan menempuh desa-desa kecil yang mengenalkan kami pada Suku Saluan dan Balantak. Suku pedalaman Sulawesi Tengah, Banggai. Mulai dari makanan khas hingga kearifan lokal yang menjaga hutan dari penebangan liar. Perjalanan berlanjut menyusuri pantai timur Sulawesi dengan biota laut yang menawan hingga kehidupan suku Laut, Suku Bajoe. Padang Ilalang membentang di punggungan tengah, luar biasa.
Empat bulan, rasanya waktu begitu cepat berlalu dan masih banyak bagian dari tanah Wira Bhuana yang belum kami tempuh. Melihat, menempuh alam dan berdialog dengan manusianya, maka kita akan semakin Menjadi Indonesia. Selamat Mengembara.rdr

Categories
Featured Travelling Guides

Untuk Udara, Air, Bumi, Dan Semuanya. Terima Kasih!

KepadaNYA selalu lupa kita ucapkan, Terima Kasih! Seolah milik sendiri kita ambil semua. Tanpa Ijin dan Tanpa Terima Kasih. Mungkin benar bahwa semua telah disiapkan untuk kita. Kita sebagai diri pribadi atau sebagai satu jenis makhluk. Manusia. Bukankah manusia tidak hanya diri kita, kelompok kita, partai kita, keluarga kita tapi juga manusia – manusia yang belum lahir! Ya, kita berhutang begitu besar.

Lalu bila kita tidak perduli dan merusak semua demi berlomba memenuhi keserakahan kita, apakah DIA rugi? Justru kita yang akan sengsara. Kita telah diajarkan oleh NYA apa yang kita namakan sebab-akibat, aksi dan reaksi. Tanah longsor, banjir, kekeringan, hujan asam, pemanasan global bukankah itu ulah kita? Lalu kita bilang, “Ini mungkin sudah kehendak YangKuasa bahwa bencana banjir ini terjadi!” Bukankah aneh? DIA tidak pernah menghendaki keburukan. Kita sendiri yang menjadi biangnya. Bukan karena kita tidak tahu. Namun karena kita tidak mau tahu dan tidak perduli karena takut sumber daya yang disediakanNYA diserobot orang lain. Takut keburu kehabisan.

Semua mampu berperan mengurangi itu semua demi manusia – manusia yang belum lahir. Demi memelihara apa yang telah diberikanNYA kepada kita. Akhirnya demi diri kita sendiri pula. Bagaimana mungkin Pecinta Alam bisa membantu? Pertanyaan yang bagus bukan? Apa yang selama ini telah kita lakukan? Naik Gunung, Panjat tebing, arung jeram, susur gua dan lain sebagainya. Apa yang kita dapatkan? Kesenangan pribadi semata? Kita bisa apa untuk melestarikan alam ini? Ya, Kita, Pecinta Alam!

Apakah kita memiliki kecenderungan untuk melestarikan alam? Bila ada sedikitpun, apakah mungkin lebih besar dari orang lain? Bila tidak lebih besar, ada sesuatu yang kurang atau salah disini. Mari kita tumbuhkan apa yang telah ada. Rasa mencintai alam, rasa senang bersanding dengan alam. Kemampuan menikmati kedinginan, kemampuan menikmati rintik hujan dan bahkan badai, adalah kelebihan kita. Mari kita manfaatkan dengan baik untuk mendorong diri kita sendiri untuk membantu pelestarian alam. Sebagai wujud rasa syukur kita atas Nikmat yang selalu kita rasakan tersebut.

Selamat Datang, Selamat Mencintai Alam!