Home » Agenda Garba, Headline

SESSION HUTAN GUNUNG GARBA WIRA BHUANA

Submitted by on 24/02/2017 – 12:24

Peserta Session dari kiri ke kanan : Syaiful Qowiy, Ahmad Iqbal Morgan, Yuli Julaila, Krisnanda Theo

Session Hutan Gunung Garba Wira Bhuana telah berlangsung dengan lancar pada 13-18 Februari 2017 di Kawasan Gunung Wilis. Dimulai dengan upacara pemberangkatan hari Senin pukul 08.00 WIB, rombongan berangkat dan dapat tiba kembali ke Sekretariat Garba Wira Bhuana pada hari Minggu pukul 17.30 WIB, dengan sebelumnya mampir dulu ke Sekretariat Mapala Pasca IAIN Ponorogo.

Gunung Wilis dipilih karena kesulitan medan dan kondisi hutannya yang masih sangat alami. Hutannya pun menyimpan makanan yang lumayan banyak, baik hewani maupun nabati. Suasana hutan yang sangat rapat antar pohonnya, menjadikan pemandangan yang mistis ketika kabut turun, bahkan matahari pun hanya bisa menyembul setitik setitik dintara daun-daun yang rimbun.

“Wilis merupakan gunung yang menarik dari segi fisik dan ‘non-fisik’. Jika mulai bingung, duduk, tenang, dan berpikir dulu. Perjalanan satu minggu merupakan perjalanan yang panjang jadi tetap berhati-hati.” Pesan yang diberikan oleh Kak Rendra saat sambutan NIA terkecil pada upacara pemberangkatan.

Rumah terakhir merupakan tempat rombongan menitipkan sepeda motor, berada di Dusun Pandansari, Pudak Wetan, Pudak, Ponorogo, tepatnya di kediaman Bapak Setu. Bersambut senyum ramah dan segelas kopi untuk masing-masing dari kami, obrolan hangat tentang Kawasan Gunung Wilis pun dimulai. Tentang satwa liar yang masih sering dijumpai di kawasan hutan, cerita-cerita pengalaman beliau menyusuri hutan, dan banyak ‘wejangan’ yang diberikan oleh beliau sebelum kami mulai kegiatan di kawasan tersebut. Semakin menguatkan bahwa Gunung Wilis merupakan gunung yang menarik.

Session Hutan Gunung yang dijalani oleh 4 orang anggota muda Garba Wira Bhuana angkatan XXVIII ini mencangkup 4 materi inti, yaitu navigasi darat, survival, pertolongan penderita gawat darurat, dan manajemen perjalanan, kemudian ditambah kerjasama tim. Peserta berbekal plot perencanaan tempat camp dan dua poin dari pengurus yang harus dicari dengan ilmu navigasi darat yang telah mereka peroleh. Selain itu, praktek materi survival seperti perapian, jerat, camp para-para, bivak alam, dan botani zoologi praktis juga dilakukan selama 6 hari berkegiatan di Kawasan Wilis. Pada hari terakhir, merupakan praktek materi pertolongan penderita gawat darurat, peserta mencoba mengevakuasi korban sampai ke rumah warga terdekat.

Resection, intersection, dan orientasi medan mutlak dilakukan oleh peserta sepanjang 6 hari perjalanan session agar mencapai titik yang ditentukan. Peserta tidak jarang juga melakukan man to man karena minimnya titik ekstrim ketika masuk hutan. Identifikasi medan pun dilakukan berulang kali agar yakin bahwa titik tersebut merupakan titik ekstrim yang ini atau yang itu, saking banyaknya puncak yang terlihat.

Dapat pulang kembali dan sampai di sekretariat adalah hal yang sangat patut disyukuri mengingat medan dan kondisi gunungnya yang menarik. Untung juga, bahwa semua peserta session tidak mengalami kecelakaan atau luka-luka yang berarti sehingga dapat meneruskan kegiatan begitu tiba di Solo. Dan agenda terdekat adalah Laporan Pertanggungjawaban. Semangat terus!

Hello genk!

Leave a comment

Add your comment below. You can also subscribe to these comments via RSS

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar