Home » Headline, Urban Legends

Realisasi 30% RTH Surakarta : Apakah itu mimpi?

Submitted by on 24/04/2016 – 20:57

IMG_3328
Ruang terbuka hijau atau yang lebih sering disingkat RTH merupakan ruang-ruang yang terdapat dalam suatu wilayah dalam bentuk area atau kawasan maupun dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, ekonomi,social, budaya, dan estetika.
Kota Surakarta sebagai salah satu kota yang perkembangan dan pertumbuhan pembangunannya terbilang cepat di Indonesia saat ini tengah menghadapi permasalah RTH yang semakin berkurang jumlahnya. Kota Surakarta saat ini hanya memiliki luas RTH tidak lebih dari 25% baik itu RTH Publik maupun RTH Privat. Hal ini cukup delematis mengingat dalam Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang menentukan proporsi RTH dalam sebuah wilayah kota sedikitnya mencapai 30% RTH dengan RTH Publik sebesar 20%.
Dengan latar belakang tersebut maka Pemkot Surakarta saat ini tengah menyusun dan menggodok produk hukum berupa Raperda tentang Ruang Terbuka Hijau dengan target dapat mencapai luas wilayah RTH Kota Surakarta sebagaimana yang diamanatkan dalam UU 26/2007 tentang Penataan Ruang. Sejau ini Pemkot Surakarta sudah menghasilkan draft Raperda tentang Ruang Terbuka Hijau dan sudah diduskusikan kepada berbagai elemen masyarakat pada tanggal 11 April 2016 lalu. Diharapkan jika Raperda tersebut disahkan menjadi Perda cita-cita kota Surakarta memiliki RTH lebih dari 30% dapat tercapai.
Pertanyaan saat ini adalah apakah dengan disahkannya Raperda tersebut dapat menjamin terciptanya RTH yang ideal bagi kota Surakarta? Bagaimana RTH dapat bertambah tanpa menghambat proses pembangunan kota Surakarta menuju kota metropolitan? Hal ini tentu menjadi tantangan yang akan dihadapi oleh Raperda RTH jika berhasil disahkan dan harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak dalam proses pembangunan untuk tidak mengesampingkat aspek RTH dalm setiap pembangunan mereka.
Sifat ruang atau wilayah yang tetap dari sebuah kota juga akan menjadi pengganjal target 30% RTH kota Surakarta di tengah pembangunan kota yang juga membutuhkan ruang-ruang baru dalam prosesnya. Jika Raperda ini kedepan hanya mengikat untuk pembangunan yang akan dilakukan setelah Raperda ini disahkan, rasanya target 30% RTH di kota Surakarta hanya sekedar menjadi mimpi yang entah kapan terwujud.
Namun jika Raperda ini kemudian juga berlaku surut bagi pembangunan yang sudah terlaksana tentu resiko timbulnya pertentangan dari masyarakat atau pihak-pihak yang merasa diberatkan dengan ketentuan tersebut akan besar. Lalu apakah dengan kemungkinan pertentangan yang akan timbul tersebut kemudian Raperda tentang RTH ini masih dapat dilaksanakan. Persolaan-persoalan tersebut harus dapat dijawab oleh Pemkot Surakarta secara bijak dan penuh perhitungan matang kedepannya. Sam Anjar Rantona 

Tags: , , ,

Leave a comment

Add your comment below. You can also subscribe to these comments via RSS

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar