Home » Featured, Kreatifitas

Garba Wira Bhuana di Tanah Wirabuana

Submitted by on 27/01/2014 – 01:23 One Comment

“A journey of a thousand miles begins with a single step” Lao Tze

Oleh GWB 22238 AWKB

“Hello Gank! Garba ! “

Garba Wira Bhuana di Tanah Wirabuana

Itulah kira-kira teriakan yang selalu terdengar di telinga ketika masa pendidikan dasar Garba Wira Bhuana Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta. Lengkingan itu pula yang selalu mngiringi langkah seorang Garbawana. Pagi itu sebuah tweet Konfusius membayangi pikiran saya, ya “ perjalanan ribuan mil dimulai dari langkah pertama”. Sebagai Anggota Muda (selanjutnya disebut AM), pengembaraan adalah bagian tak terpisahkan jalan hidup setiap AM, hingga pada suatu hari seorang kawan member kabar untuk ikut seleksi Ekspedisi NKRI koridor Sulawesi 2013.
Singkat cerita, pengumuman di website menerangkan bahwa seorang AM GWB lolos sebagai peserta E kspedisi. Lalu AM tersebut datang ke Posko Utama di Pusdikpassus Batujajar untuk menjalani cek fisik, psikologi dan Litsus. Dua hari di Batujajar, akhirnya seluruh peserta bergeser ke Situ Lembang. Sebuah tempat latihan Gunung Hutan Komando Pasukan Khusus TNI AD.
Selamat Pagi Ekspedisi !
Suara dari soundsystem membelah kabut di balik leuweung Tangkuban Perahu. Pembinaan fisik, mental spiritual dan pembekalan materi menjadi santapan sehari-hari. Satu suara dan ceria.
“tiada gunung terlalu tinggi, buat kami daki di siang hari, tiada jurang terlalu dalam buat kami susuri di malam gelap. hahahaa Hutan rimba padang ilalang kususuri jalanan jauh…”
Lirik yang membakar semanat itu mengiring kami pada sebuah pagi. Pagi yang masih dibungkus kabut dan angin lembah yang dingin. Sebuah angkutan raksasa bernama Hercules membawa kami menuju tanah Wira Bhuana, Sulawesi. Tanah putih, lautan biru dan kehijauan hutan yang pekat, kami datang.
Perjalanan dimulai dengan menempuh desa-desa kecil yang mengenalkan kami pada Suku Saluan dan Balantak. Suku pedalaman Sulawesi Tengah, Banggai. Mulai dari makanan khas hingga kearifan lokal yang menjaga hutan dari penebangan liar. Perjalanan berlanjut menyusuri pantai timur Sulawesi dengan biota laut yang menawan hingga kehidupan suku Laut, Suku Bajoe. Padang Ilalang membentang di punggungan tengah, luar biasa.
Empat bulan, rasanya waktu begitu cepat berlalu dan masih banyak bagian dari tanah Wira Bhuana yang belum kami tempuh. Melihat, menempuh alam dan berdialog dengan manusianya, maka kita akan semakin Menjadi Indonesia. Selamat Mengembara.rdr

One Comment »

Leave a comment

Add your comment below. You can also subscribe to these comments via RSS

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar